<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<item xmlns="http://omeka.org/schemas/omeka-xml/v5" itemId="2066" public="1" featured="0" xmlns:xsi="http://www.w3.org/2001/XMLSchema-instance" xsi:schemaLocation="http://omeka.org/schemas/omeka-xml/v5 http://omeka.org/schemas/omeka-xml/v5/omeka-xml-5-0.xsd" uri="http://digilib.upnb.ac.id/items/show/2066?output=omeka-xml" accessDate="2026-04-08T00:17:35+02:00">
  <fileContainer>
    <file fileId="2056">
      <src>http://digilib.upnb.ac.id/files/original/95\2066\SKIRIPSI_MURNIATI.1.pdf</src>
      <authentication>eafcac6c0d29904202e45c3fb1c77053</authentication>
    </file>
  </fileContainer>
  <collection collectionId="95">
    <elementSetContainer>
      <elementSet elementSetId="1">
        <name>Dublin Core</name>
        <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
        <elementContainer>
          <element elementId="50">
            <name>Title</name>
            <description>A name given to the resource</description>
            <elementTextContainer>
              <elementText elementTextId="8999">
                <text>Tahun 2020</text>
              </elementText>
            </elementTextContainer>
          </element>
        </elementContainer>
      </elementSet>
    </elementSetContainer>
  </collection>
  <elementSetContainer>
    <elementSet elementSetId="1">
      <name>Dublin Core</name>
      <description>The Dublin Core metadata element set is common to all Omeka records, including items, files, and collections. For more information see, http://dublincore.org/documents/dces/.</description>
      <elementContainer>
        <element elementId="50">
          <name>Title</name>
          <description>A name given to the resource</description>
          <elementTextContainer>
            <elementText elementTextId="9417">
              <text>Efektifitas akupresure titik BL 2.0 dan 2.1 terhadap frekuensi makan balita diwilayah kerja korong puskesmas lubuk alung kabupaten padang pariaman tahun 2020</text>
            </elementText>
          </elementTextContainer>
        </element>
        <element elementId="41">
          <name>Description</name>
          <description>An account of the resource</description>
          <elementTextContainer>
            <elementText elementTextId="9418">
              <text>Kesehatan anak perlu mendapat perhatian, khususnya anak yang tidak suka makan sehingga membutuhkan arahan untuk menambah nafsu makan. Banyak anak yang pilih-pilih makanan dan menolak untuk makan tentu tidak boleh dijadikan alasan oleh orang tua. Jika hal ini dibiarkan akan menghambat pertumbuhan dan berat badan anak tersebut dan anak bisa mengalami gizi kurang. Anak-anak yang mengalami gizi kurang karena kurangnya asupan makanan dan penyakit yang berulang terutama penyakit infeksi yang dapat meningkatkan kebutuhan metabolik serta mengurangi nafsu makan.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efektifitas akupresure pada titik BL 20 dan 21 terhadap nafsu makan balita. Jenis penelitian ini Quasy Eksperiment dengan desain Two-Group Pretest-Post-Test yaitu pengelompokkan anggota-anggota kelompok eksperimen.Penelitian ini menguji perubahan-perubahan yang terjadi pada kelompok setelah adanya eksperimen (perlakuan).Pengambilan sample dengan menggunakan cara purposivev sampling dengan jumlah sample 6 orang. Pengambilan data menggunakan lembar observasi serta dianalisis melalui analisis univariat dengan distribusi frekuensi, bivariat menggunakan uji paired sample T- test dengan derajat kepercayaaan 95% dan α=0,05.Hasil penelitian didapatkan bahwa rata-rata frekuensi makan balita sebelum intervensi akupresure pada titik BL 20 dan 21 pada kelompok kontrol adalah 1,33, didapatkan rata-rata frekuensi makan balita sesudah intervensi akupresure pada titik BL 20 dan 21 pada kelompok kontrol adalah 18,33, didapatkan rata-rata frekuensi makan balita sebelum intervensi akupresure pada titik BL 20 dan 21 pada kelompok kasus adalah 1,33, didapatkan rata-rata frekuensi makan balita sesudah intervensi akupresure pada titik BL 20 dan 21 pada kelompok kasus adalah 27,50.Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa akupresure titik BL 20 dan 21 efektif dalam meningktakan nafsu makan terhadap balita karena dapat merangsang saluran limfa pada balita yang dapat meningkatkan frekuensi makan pada balita.</text>
            </elementText>
          </elementTextContainer>
        </element>
        <element elementId="39">
          <name>Creator</name>
          <description>An entity primarily responsible for making the resource</description>
          <elementTextContainer>
            <elementText elementTextId="9419">
              <text>Murniati</text>
            </elementText>
          </elementTextContainer>
        </element>
        <element elementId="45">
          <name>Publisher</name>
          <description>An entity responsible for making the resource available</description>
          <elementTextContainer>
            <elementText elementTextId="9420">
              <text>INSTITUT KESEHATAN PRIMA NUSANTARA BUKITTINGGI</text>
            </elementText>
          </elementTextContainer>
        </element>
        <element elementId="42">
          <name>Format</name>
          <description>The file format, physical medium, or dimensions of the resource</description>
          <elementTextContainer>
            <elementText elementTextId="9421">
              <text>PDF</text>
            </elementText>
          </elementTextContainer>
        </element>
      </elementContainer>
    </elementSet>
  </elementSetContainer>
</item>
